GURITA (Gerakan Gizi Untuk Balita)

I. RANCANG BANGUN INOVASI

1. Dasar Hukum

Pelaksanaan inovasi GURITA (Gerakan Untuk Balita) didasarkan pada beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan, yaitu:

  1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2024 tentang Standar Teknis Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Puskesmas.
  4. Surat Keputusan Kepala Puskesmas tentang Program GURITA Nomor 445.1/1338/SK/II/Pkm.S.Kota/VII/2026.

Dasar hukum tersebut menjadi landasan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan balita, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, deteksi dini masalah gizi, serta upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Serui Kota.

2. Permasalahan

Inovasi GURITA lahir dari permasalahan masih rendahnya kepatuhan sebagian orang tua dalam membawa balita ke Posyandu. Kondisi tersebut menyebabkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, status gizi, imunisasi, serta deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita belum dapat dilakukan secara optimal. Apabila tidak segera ditindaklanjuti, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko keterlambatan penanganan balita yang mengalami masalah gizi maupun stunting.

Berdasarkan data Puskesmas Serui Kota, kunjungan balita ke Posyandu pada periode Juli–Desember 2025 tercatat sebanyak 806 kunjungan, kemudian meningkat menjadi 838 kunjungan pada periode Januari–Juni 2026. Selain itu, pada tahun 2026 terdapat 884 balita yang tidak hadir dalam kegiatan penimbangan sehingga perlu ditindaklanjuti melalui kunjungan rumah. Pada indikator imunisasi, jumlah balita yang mendapatkan imunisasi pada periode Juli–Desember 2025 sebanyak 447 balita, meningkat menjadi 659 balita pada periode Januari–Juni 2026.

Data tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat mekanisme pelayanan yang lebih proaktif dan mampu menjangkau balita yang tidak hadir di Posyandu. Oleh karena itu, Puskesmas Serui Kota mengembangkan GURITA sebagai pendekatan pelayanan jemput bola melalui kunjungan rumah (home visit).

3. Isu Strategis

Peningkatan kualitas kesehatan balita dan percepatan penurunan stunting merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional dan daerah. Namun, rendahnya kehadiran sebagian balita di Posyandu masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan pemantauan pertumbuhan, cakupan imunisasi, deteksi dini masalah gizi, dan perkembangan balita.

Data Puskesmas Serui Kota menunjukkan bahwa terdapat 884 balita yang tidak hadir dalam kegiatan penimbangan selama tahun 2026 dan memerlukan tindak lanjut melalui kunjungan rumah. Kondisi ini menunjukkan perlunya pelayanan kesehatan yang lebih proaktif agar seluruh balita memperoleh pelayanan secara merata.

Melalui inovasi GURITA, Puskesmas Serui Kota menerapkan strategi pelayanan jemput bola secara terstruktur melalui kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan pelayanan balita, mempercepat deteksi dini masalah gizi dan tumbuh kembang, meningkatkan cakupan imunisasi, serta mendukung percepatan penurunan stunting.

4. Metode Pembaruan

Sebelum dikembangkan menjadi inovasi GURITA, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita telah dilaksanakan secara rutin melalui kegiatan Posyandu. Bagi bayi dan balita yang tidak hadir di Posyandu, petugas Puskesmas juga telah melakukan kunjungan rumah untuk memastikan mereka tetap memperoleh pelayanan kesehatan. Namun, pelaksanaan kunjungan tersebut masih bersifat rutin dan belum memiliki mekanisme yang terstruktur, khususnya dalam penetapan sasaran, penjadwalan, pencatatan, pemantauan tindak lanjut, serta evaluasi hasil kegiatan.

Melalui inovasi GURITA, mekanisme kunjungan rumah tersebut disempurnakan menjadi sistem pelayanan yang lebih sistematis, terukur, terdokumentasi, dan terintegrasi. Sasaran kunjungan ditentukan berdasarkan data balita yang tidak hadir di Posyandu, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan jadwal dan pelaksanaan kunjungan rumah.

Dalam kunjungan tersebut dilakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, skrining tumbuh kembang, pemantauan status gizi, edukasi dan konseling kepada orang tua, serta pencatatan hasil pelayanan. Selanjutnya, hasil kegiatan dilaporkan dan digunakan sebagai bahan monitoring dan evaluasi secara berkala.

Dengan demikian, kunjungan rumah tidak lagi sekadar menjadi kegiatan tindak lanjut, tetapi menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan balita yang berorientasi pada peningkatan cakupan pelayanan, deteksi dini, dan pencegahan stunting.

5. Keunggulan dan Kebaruan Inovasi

Keunggulan utama inovasi GURITA terletak pada penerapan pelayanan kesehatan yang bersifat proaktif atau jemput bola. Balita yang tidak hadir di Posyandu tetap mendapatkan pelayanan melalui kunjungan langsung ke rumah.

Keunggulan tersebut meliputi:

  1. Pelayanan jemput bola, sehingga balita yang tidak hadir di Posyandu tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan.
  2. Meningkatkan cakupan penimbangan dan pemantauan pertumbuhan balita.
  3. Mempercepat deteksi dini terhadap masalah gizi dan gangguan tumbuh kembang.
  4. Memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan orang tua atau keluarga balita.
  5. Memberikan edukasi dan konseling secara langsung mengenai gizi, kesehatan, dan pola asuh balita.
  6. Memiliki mekanisme yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi sasaran, kunjungan, pencatatan, pelaporan, hingga monitoring dan evaluasi.
  7. Mendukung percepatan penurunan stunting melalui intervensi yang dilakukan sejak dini.

6. Tahapan Inovasi

Tahapan pelaksanaan inovasi GURITA meliputi:

  1. Identifikasi Balita Sasaran
    Mengidentifikasi balita yang tidak hadir dalam kegiatan Posyandu berdasarkan data pemantauan yang tersedia.

  2. Penyusunan Jadwal Kunjungan
    Menentukan jadwal dan lokasi kunjungan berdasarkan daftar balita sasaran.

  3. Pelaksanaan Kunjungan Rumah
    Melakukan kunjungan ke rumah balita untuk memberikan pelayanan kesehatan, meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, skrining tumbuh kembang, dan pemantauan status gizi.

  4. Edukasi dan Konseling
    Memberikan edukasi kepada orang tua mengenai gizi balita, pola asuh, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, dan pencegahan stunting.

  5. Pencatatan dan Pelaporan
    Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan pelayanan yang diberikan serta menyusun laporan kegiatan.

  6. Monitoring dan Evaluasi
    Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk mengetahui capaian program, kendala pelaksanaan, serta tindak lanjut yang diperlukan.

Melalui tahapan tersebut, GURITA diharapkan mampu meningkatkan cakupan pelayanan balita, mengurangi jumlah balita yang tidak mendapatkan pemantauan, mempercepat deteksi masalah gizi dan tumbuh kembang, serta mendukung percepatan penurunan stunting di wilayah kerja Puskesmas Serui Kota.

II. TUJUAN INOVASI

Tujuan inovasi GURITA adalah meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan balita melalui pendekatan kunjungan rumah bagi balita yang tidak hadir di Posyandu.

Secara khusus, tujuan inovasi meliputi:

  1. Meningkatkan cakupan balita yang mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Meningkatkan cakupan penimbangan dan pemantauan pertumbuhan balita.
  3. Melakukan deteksi dini terhadap gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
  4. Menurunkan risiko terjadinya stunting melalui intervensi sejak dini.
  5. Meningkatkan cakupan imunisasi balita.
  6. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga mengenai gizi dan kesehatan balita.
  7. Memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan keluarga balita.
  8. Meningkatkan efektivitas pemantauan dan tindak lanjut balita yang berisiko mengalami masalah kesehatan.

III. MANFAAT INOVASI

Pelaksanaan inovasi GURITA memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan balita, khususnya bagi balita yang tidak hadir di Posyandu.
  2. Mencegah balita terlewat dari pemantauan pertumbuhan dan perkembangan.
  3. Mempercepat deteksi masalah gizi dan gangguan tumbuh kembang.
  4. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan melalui pendekatan kunjungan langsung ke rumah.
  5. Meningkatkan pengetahuan orang tua melalui edukasi dan konseling gizi secara langsung.
  6. Meningkatkan cakupan imunisasi dan pelayanan kesehatan balita lainnya.
  7. Memperkuat keterlibatan keluarga dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak.
  8. Mendukung percepatan penurunan stunting melalui pelayanan preventif dan deteksi dini.

IV. HASIL INOVASI

Pelaksanaan inovasi GURITA telah meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan balita melalui pendekatan jemput bola (home visit). Berdasarkan data yang tersedia, kunjungan balita ke Posyandu meningkat dari 806 kunjungan pada Juli–Desember 2025 menjadi 838 kunjungan pada Januari–Juni 2026. Cakupan imunisasi juga mengalami peningkatan dari 447 balita pada Juli–Desember 2025 menjadi 659 balita pada Januari–Juni 2026.

Selain itu, terdapat 884 balita yang tidak hadir dalam kegiatan penimbangan selama tahun 2026 dan telah ditindaklanjuti melalui kunjungan rumah. Melalui kunjungan tersebut, balita tetap memperoleh pelayanan kesehatan, pemantauan pertumbuhan, skrining tumbuh kembang, serta edukasi dan konseling gizi kepada keluarga.

Output Inovasi

Output yang dihasilkan melalui pelaksanaan GURITA meliputi:

  1. Terlaksananya kunjungan rumah bagi balita yang tidak hadir di Posyandu.
  2. Tersedianya data hasil penimbangan dan pemantauan status gizi balita.
  3. Terlaksananya skrining tumbuh kembang balita.
  4. Terlaksananya edukasi dan konseling gizi kepada keluarga.
  5. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan balita, termasuk penimbangan dan imunisasi.
  6. Tersusunnya laporan kegiatan sebagai dasar monitoring dan evaluasi.
  7. Meningkatnya tindak lanjut terhadap balita yang berisiko mengalami masalah gizi dan tumbuh kembang.

Outcome

Outcome yang diharapkan dari inovasi GURITA adalah:

  1. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan balita.
  2. Menurunnya jumlah balita yang tidak mendapatkan pemantauan pertumbuhan.
  3. Meningkatnya cakupan imunisasi balita.
  4. Meningkatnya deteksi dini terhadap masalah gizi dan gangguan tumbuh kembang.
  5. Meningkatnya pengetahuan dan keterlibatan orang tua dalam pemantauan kesehatan balita.
  6. Menurunnya risiko stunting di wilayah kerja Puskesmas Serui Kota.

Dampak Inovasi

Dalam jangka panjang, inovasi GURITA diharapkan memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang balita. Pendekatan pelayanan jemput bola memungkinkan balita yang sebelumnya tidak terjangkau pelayanan Posyandu tetap mendapatkan pemantauan dan intervensi kesehatan secara tepat waktu.

Dengan meningkatnya cakupan penimbangan, imunisasi, skrining tumbuh kembang, serta edukasi kepada keluarga, potensi masalah gizi dan gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal dan segera ditindaklanjuti. Kondisi tersebut pada akhirnya mendukung upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan balita di wilayah kerja Puskesmas Serui Kota.